Pengembangan berpikir kritis (crititcal thinking) dalam Alquran

Perspektif psikologi pendidikan

Authors

  • Syamsul Huda Rohmadi Institut Agama Islam Negeri Surakarta

Abstract

Manusia itu disebut al-insan hayawân nâthiq, yakni hewan yang mampu berpikir. Artinya bahwa kemampuan berpikir itu merupakan fitrah yang inheren pada setiap manusia. Melalui berpikir, manusia dapat melampaui segala sesuatu dan memecahkan masalah, melalui berpikir dapat mengerti yang abstrak, contonya tentang kebajikan dan kejahatan, kemuliaan dan keterburukan serta kebenaran dan kebatilan. Hanya saja, manusia dalam berpikir terbatas dalam masalah pengetahuan dan persepsi, karena fitrah berpikir yang ada pada manusia tidak akan berkembang secara otomatis jika tidak dirangsang untuk diberdayakan. Beberapa ayat dalam Alquran menyatakan agar manusia menggunakan pikirannya, Berpikir kritis menurut Alquran seperti bentuk lafad tatafakkarun, ta’qilun, tandurun, ulul al-bab, tatadakkarun, tubsirun, tatadabbarun, ta’lamun, Sejarah nabi bagian dari peradaban dan pengetahuan, sehingga berpikir adalah bagian dari risalah kenabian meliputi aspek psikologis mental-seorang nabi melihat realitas yang ada, misalnya permasalahan-permasalahan dan problematika kondisi manusia pada masa itu. Maka terjadilah berpikir kritis dalam struktur realitas ultimate terhadap problematika kehidupan sebagai ujud eksistensi nabi sebagai manusia yang tersentuh untuk berpikir dalam menyelessaikan permasalahan.

Kata kunci: Crititcal Thinking, Alquran, Psikologi Pendidikan Islam

Downloads

Published

2018-06-27

How to Cite

Rohmadi, S. H. (2018). Pengembangan berpikir kritis (crititcal thinking) dalam Alquran: Perspektif psikologi pendidikan. Jurnal Psikologi Islam, 5(1), 27—36. Retrieved from https://jpi.api-himpsi.org/index.php/jpi/article/view/56

Issue

Section

Non Empirical Research